Program Kenyukai

Gambar 1. Tanaman Indigo

sumber: wikipedia.com

Batik dengan Pewarnaan Alami Indigo

Batik dengan proses pewarnaan alami sudah jarang sekali dilakukan di Indonesia, kenapa? karena prosesnya yang rumit, banyak menyita waktu dan tenaga. Namun apakah pewarnaan alami sudah selayaknya ditinggalkan/diganti dengan pewarnaan sintetis? Mari kita coba bahas dengan mempelajari salah satu pewarnaan alami yang menggunakan tanaman “Indigo (Indigofera tinctoria) “ dasar dari warna biru tua/biru kelam.

Nenek moyang kita menggunakan tanaman Indigo (gambar 1) untuk mendapatkan warna biru tua. Bagi saya yang kebetulan suka dengan warna biru tua, pewarna alami yang berasal dari tanaman indigo ini mempunyai keistimewaan tersendiri. Mari kita sebut pewarna alami biru tua yang dihasilkan dari tanaman indigo dengan warna indigo.

Ada beberapa hal menarik yang membuat warna indigo ini sangat istimewa

1

Proses "Magic" Oksidasi

Warna biru indigo itu tidak muncul langsung saat kain dicelup. Saat kain berada di bak celupan, warnanya justru terlihat hijau kekuningan. Namun begitu kain terkena udara (oksigen), perlahan-lahan warnanya berubah menjadi biru. Proses oksidasi inilah yang membuat pengrajin batik harus mencelup berkali-kali (bisa belasan kali) untuk mendapatkan warna biru yang diinginkan

2

Bau yang Khas

Pernah mencium aroma kain batik indigo alami? Ada aroma tanah seperti fermentasi tanaman. Hal ini karena pasta indigo harus difermentasi dulu dengan gula kelapa, kapur, atau pisang agar warnanya bisa "mengunci" ke serat kain.

3

Ramah Lingkungan & "Slow Fashion"

Berbeda dengan pewarna kimia yang limbahnya merusak air tanah, limbah pewarnaan indigo alami justru bisa digunakan sebagai pupuk. Keren ya?! Itulah keajaiban ekosistem warna alami.

Pernah mencium aroma kain batik indigo alami? Ada aroma tanah seperti fermentasi tanaman. Hal ini karena pasta indigo harus difermentasi dulu dengan gula kelapa, kapur, atau pisang agar warnanya bisa "mengunci" ke serat kain.

Kenapa bisa jadi Pupuk?

Bahan Dasar Tanaman: Karena asalnya dari daun tanaman Indigofera tinctoria.

Kandungan Nitrogen: Tanaman indigo termasuk keluarga kacang polong (Leguminosae). Keluarga kacang polong ini dikenal sebagai "sumber nitrogen" yang menyuburkan tanaman. Jadi, otomatis sisa prosesnya kaya akan nitrogen.

Kapur dan Gula: Dalam proses "membangkitkan" warna indigo, perajin biasanya mencampur pasta indigo dengan kapur sirih dan gula kelapa (sebagai katalis fermentasi). Kapur membantu menetralkan asam tanah, sementara gula menjadi nutrisi bagi mikroba baik di dalam tanah. Di desa-desa pengrajin batik yang masih memegang teguh tradisi (seperti di daerah Jawa Tengah atau pengrajin kain tenun di Flores), air sisa celupan indigo biasanya langsung dibuang ke tanah di sekitar rumah atau ke kebun.

Hasilnya? Tanaman di sekitar tempat pencelupan justru tumbuh lebih lebat dibanding area lainnya. Bagaikan siklus yang berkesinambungan;

Tanam Indigofera

Panen daunnya untuk warna.

Limbahnya kembali ke tanah untuk menyuburkan tanaman lagi.

Perbedaan Penggunaan Indigo di Jepang (aizome) dan Indonesia (batik indigo)

Tidak hanya di Indonesia, ternyata pewarna indigo juga digunakan di Jepang sejak dahulu kala. Proses pewarnaan dengan menggunakan daun indigo ini dikenal dengan nama aizome. Diawali dengan penggunaannya untuk mewarnai kain untuk kimono, dewasa ini aizome masih tetap dipakai misalnya untuk mewarnai jeans, seragam Kendo dan Aikido, pakaian bayi, handuk, dll. → Pakaian Bayi?!

Wah.. ternyata bahkan ada pakaian bayi aizome. (ternyata salah satu alasannya adalah sifat alami aizome yang anti bakteri, anti jamur dan sangat lembut untuk kulit bayi yang sensitif) → nantikan laporan lain tentang aizome Jepang.

Meskipun sumber —tanaman Indigofera—nya sama, namun ada perbedaan filosofis dan teknis yang menarik antara penggunaan indigo di Jepang (Aizome) dan di Indonesia (Batik Indigo)

Gambar 2. Aizome (Jepang)

Gambar 3: Batik Indigo (Indonesia)

Sumber: Japan National Tourism Organization

Sumber: Indonesia Design

Jiwa Visual

Jiwa Visual

Teknik Pewarnaan

Teknik Pewarnaan

Lebih fokus pada tekstur kain dan gradasi warna. Pada jeans atau seragam Kendo, keindahannya terletak pada bagaimana warna biru itu "luntur" (fading) seiring pemakaian, menciptakan pola yang menceritakan sejarah pemakainya.

Di Jepang, mereka sering menggunakan teknik Shibori (ikat celup) atau Katazome (menggunakan stensil kertas dan pasta kanji) untuk membuat pola.

Fokus pada kerumitan motif dan makna. Indigo di sini menjadi "panggung" bagi motif-motif sakral (seperti Parang atau Kawung). Warna birunya bukan sekadar warna, tapi simbol ketenangan, kedalaman spiritual, dan kesabaran perajin yang mencelupnya berkali-kali.

Di Indonesia, kita membatik menggunakan Malam (Lilin) sebagai perintang warna dan Canting sebagai perpanjangan tangan untuk menggambar motif tertentu.

Gambar 4. Kegiatan Workshop di Jepang menggunakan pewarnaan alami Indigo.

Gambar 5. Batik ala Jepang yang dibuat dengan menggunakan "malam/lilin", dilukis di kain tidak dengan "canting" melainkan "kuas" lalu dicelup dalam pewarna alami indigo.

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Mengapa Indigo Sangat Penting untuk Seragam Bela Diri (Kendo)?

Gambar 6. Seragam Kendo

Sumber: Zak + Fox

Antibakteri & Antiseptik

Penguat Serat

Pengusir Serangga

Membantu luka (lecet saat latihan) agar tidak mudah infeksi.

Indigo alami sebenarnya "memperkuat" serat kain, membuatnya lebih tahan gesekan.

Bau khas indigo alami tidak disukai serangga, cocok untuk pakaian yang disimpan lama.

Filosofi dibalik membatik

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Gambar 7. Canting, malam, pewarna indigo bubuk dan cap.

Membatik dengan indigo alami itu seperti "melukis dengan kesabaran

Mencanting

Menorehkan malam (lilin) panas dengan canting mengajarkan kita tentang fokus dan kendali diri. Jika terlalu cepat, garisnya putus; jika terlalu diam, lilinnya akan melebar (mbleber). Ini sangat sejalan dengan konsep Zen di Jepang.

Malam (Wax): Sang Pelindung

Dalam membatik, kita tidak menggambar warna, tapi menggambar perlindungan.

Filosofi: Bagian yang ditutup lilin adalah bagian yang kita "lindungi" agar tetap putih (murni) saat dicelup ke lautan biru indigo. Ini adalah simbol menjaga kemurnian di tengah perubahan.

Kolaborasi Kami

OCHA (Osaka Culture House Academy) berkolaborasi dalam memperkenalkan Galeri Batik Jawa Yogyakarta